Oleh Baiq Isvie Rupaeda, Ketua DPRD NTB.
Mataram – Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan tahunan yang hadir setiap 20 Mei. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah dibangunkan oleh kesadaran, digerakkan oleh keberanian, dan dibesarkan oleh orang-orang yang tidak rela masa depan bangsanya hanya ditentukan oleh keadaan.
Kebangkitan selalu bermula dari cara berpikir. Sebelum sebuah bangsa bergerak secara fisik, ia terlebih dahulu bangkit dalam kesadarannya. Ia mulai bertanya tentang nasibnya, tentang martabatnya, tentang masa depannya, dan tentang peran yang harus diambil agar tidak terus menjadi penonton dalam perjalanan sejarah.
Tema Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” memberi pesan yang sangat relevan bagi kita di Nusa Tenggara Barat. Bahwa masa depan bangsa tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum-forum besar, tetapi harus dijaga sejak dari tunasnya: anak-anak, pelajar, mahasiswa, santri, pemuda-pemudi, generasi digital, pekerja muda, petani muda, nelayan muda, wirausaha muda, dan seluruh generasi yang hari ini sedang tumbuh di rumah, sekolah, kampus, pesantren, desa, dusun, pesisir, pegunungan, hingga kota-kota di NTB.
Mereka adalah masa depan yang sedang berjalan hari ini.
Menjaga tunas bangsa bukan hanya berarti melindungi mereka dari ancaman fisik. Lebih jauh dari itu, menjaga tunas bangsa berarti memastikan mereka tumbuh dengan ilmu, akhlak, karakter, keterampilan, rasa percaya diri, dan harapan. Mereka tidak boleh tumbuh dalam kemiskinan cita-cita. Tidak boleh dibesarkan dalam rasa takut menghadapi masa depan. Tidak boleh dibiarkan menjadi generasi yang hanya menunggu, hanya mengeluh, atau hanya menjadi penonton perubahan.
NTB membutuhkan generasi yang berani berdiri tegak. Generasi yang tidak hanya ingin mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan. Generasi yang tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menguasai dan memanfaatkannya. Generasi yang tidak hanya bangga menjadi bagian dari Indonesia, tetapi juga sanggup memberi karya terbaik bagi Indonesia.
Kebangkitan nasional pada masa kini tentu berbeda dengan kebangkitan pada awal abad ke-20. Dahulu, kebangkitan berarti bangkit dari penjajahan. Hari ini, kebangkitan berarti bangkit dari kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, rendahnya literasi, lemahnya produktivitas, ancaman narkoba, judi online, disinformasi, kerusakan moral, krisis lingkungan, dan persaingan global yang semakin keras.
Karena itu, kebangkitan NTB harus nyata. Bukan hanya menjadi slogan. Bukan hanya menjadi seremoni. Bukan hanya menjadi pidato yang selesai setelah tepuk tangan.
NTB harus bangkit dalam pendidikan. Bangkit dalam ekonomi. Bangkit dalam kesehatan. Bangkit dalam pertanian. Bangkit dalam pariwisata. Bangkit dalam UMKM. Bangkit dalam kualitas pelayanan publik. Bangkit dalam tata kelola pemerintahan. Bangkit dalam keberanian anak mudanya untuk mengambil peran.
Kedaulatan negara tidak hanya dijaga oleh kekuatan pertahanan. Kedaulatan juga dijaga oleh rakyat yang cerdas, ekonomi yang kuat, pangan yang cukup, teknologi yang dikuasai, budaya yang hidup, dan generasi muda yang tidak mudah dibeli, tidak mudah dipecah, dan tidak mudah kehilangan jati diri.
Di sinilah pentingnya kerja bersama.
Pemerintah daerah harus terus memperbaiki pelayanan publik dan membuka ruang bagi lahirnya kebijakan yang berpihak pada masa depan generasi. DPRD harus hadir mengawal, memastikan arah pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat. Dunia pendidikan harus menyiapkan generasi yang relevan dengan zaman. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus terus menjaga moral, persatuan, dan nilai-nilai kebaikan. Dunia usaha harus ikut membuka ruang pertumbuhan ekonomi. Anak-anak muda harus berani mengambil peran, bukan hanya menunggu giliran.
Kita tidak boleh membiarkan generasi NTB tumbuh dengan mimpi yang kecil. Kita tidak boleh membuat mereka merasa bahwa masa depan hanya tersedia bagi orang lain. Dari tanah NTB harus lahir pemimpin besar, pengusaha besar, ulama besar, ilmuwan besar, inovator besar, seniman besar, petani hebat, nelayan tangguh, atlet berprestasi, kreator digital, dan anak-anak muda yang mengharumkan bangsa.
Hari Kebangkitan Nasional harus kita turunkan dari seremoni menjadi gerakan. Dari peringatan menjadi tindakan. Dari slogan menjadi kebijakan. Dari ucapan menjadi kerja nyata.
Kebangkitan dimulai dari rumah yang mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan keteladanan. Dari sekolah yang menyalakan rasa ingin tahu. Dari kampus yang melahirkan solusi. Dari desa yang menggerakkan potensi lokal. Dari birokrasi yang melayani dengan jujur. Dari pemimpin yang berani berpikir jauh. Dari masyarakat yang tidak mudah diadu domba.
Menjaga tunas bangsa juga berarti menjaga ruang hidup mereka. Jangan wariskan kepada generasi muda pesimisme, permusuhan, budaya instan, kemalasan berpikir, dan kebiasaan saling menjatuhkan. Jangan biarkan ruang digital merampas pikiran mereka tanpa pendampingan nilai. Jangan biarkan mereka kehilangan arah di tengah derasnya informasi.
Kita harus mewariskan keberanian. Mewariskan ilmu. Mewariskan akhlak. Mewariskan etos kerja. Mewariskan cinta tanah air. Mewariskan NTB yang lebih maju, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini hendaknya menjadi momentum bagi seluruh masyarakat NTB untuk bergerak dengan kesadaran baru. Kita harus bangkit dari cara berpikir lama. Bangkit dari mental bergantung. Bangkit dari rasa rendah diri. Bangkit dari perpecahan. Bangkit dari kebiasaan menunda. Bangkit dari sekadar berharap menjadi sungguh-sungguh bekerja.
Sebagai Ketua DPRD Provinsi NTB, saya meyakini bahwa masa depan daerah ini tidak ditentukan oleh satu orang, satu lembaga, atau satu kebijakan semata. Masa depan NTB ditentukan oleh kemampuan kita membangun kesadaran bersama bahwa setiap orang punya peran dalam kebangkitan daerah.
Indonesia yang kuat hanya mungkin lahir dari daerah-daerah yang kuat. Dan NTB harus menjadi salah satu kekuatan terbaik bagi Indonesia.
Mari kita jaga tunas bangsa. Mari kita kuatkan generasi. Mari kita bangkitkan ekonomi. Mari kita rawat persatuan. Mari kita jadikan NTB sebagai daerah yang tidak hanya kaya potensi, tetapi juga kuat dalam tindakan, berani dalam inovasi, dan matang dalam membangun masa depan.
Dari NTB, kita rawat Indonesia. Dari NTB, kita bangkit bersama.


















































