TANGGAMUS – Seorang oknum ketua lembaga pers berinisial BH menjadi sorotan tajam publik setelah terekam emosi dan meluapkan kemarahannya di salah satu grup WhatsApp. Ia sangat keberatan dan tidak terima diberitakan terkait peristiwa penyewaan kendaraan bermotor milik seorang tukang sayur warga, dusun lama di salah satu peko di Kecamatan Pulau Panggung, yang dibawanya namun tidak kunjung dikembalikan. Alih-alih menjelaskan duduk perkara, BH justru melontarkan tantangan keras kepada wartawan yang memberitakan masalah tersebut, mengajak berduel hidup mati untuk menyelesaikan masalah tersebut, jum’at, 15/5/2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kronologi kejadian bermula ketika BH menyepakati penyewaan sebuah sepeda motor milik warga lama,di salah satu pekon di kecamatan pulo panggung,yang berprofesi sebagai tukang sayur. Pemilik kendaraan bersedia meminjamkan motornya dengan harapan ada keuntungan dari kesepakatan tersebut. Namun, janji yang disepakati tidak dipenuhi. Motor yang disewakan itu tidak dikembalikan hingga waktu yang di tentukan berlalu, bahkan hingga kini kendaraan tersebut belum kembali ke tangan pemiliknya. Sang tukang sayur merasa sangat dirugikan dan bingung, lantaran motor itu adalah alat utama pencahariannya sehari-hari untuk mengihidupi anak anaknya. Merasa tidak ada jalan lain, korban pun membuka kasus ini ke publik dan melaporkannya ke salah satu wartan setempat.
Setelah berita mengenai tidak dikembalikan motor sewaan itu dimuat dan menyebar luas, nama BH langsung dikaitkan dengan peristiwa tersebut. Hal ini memicu kemarahan besar dalam diri BH. Ia pun tak segan meluapkan amarahnya secara terbuka di sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan banyak orang, termasuk para awak media. Di kolom percakapan tersebut, BH mengirimkan vosnot suara, kalimat bernada tinggi, penuh emosi, dan berisi ancaman yang cukup serius.
Yang gak punya malu itu siapa ngaca dong kepala biro nulis berita aja gak bisa ngakunya wartawan proposional dia,gua tau lu coi selama ini gua gak mau ngeladeni lu banyak yang gua pandang sekarang mah gua tunggu jam 9 jangan gak dateng jauh sekalian , kita duel saja nhidup dan mati!” Vosnot suara BH panjang lebar di grup WA tersebut, seolah ingin mengintimidasi dan menakut-nakuti pihak media agar berhenti memberitakan kasus yang menjeratnya.
Ucapan dan sikap BH ini langsung menuai beragam reaksi, mulai dari keterkejutan hingga kecaman keras dari berbagai kalangan. Sebab, sebagai sosok yang memimpin lembaga pers, ia seharusnya menjadi teladan yang taat hukum, beretika, dan mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang bijak dan beradab. Namun fakta yang terlihat justru sebaliknya: ia diduga merugikan warga kecil, lalu berusaha membungkam pemberitaan dengan ancaman yang sama sekali tidak berdasar hukum dan sangat tidak pantas.
Rekan-rekan sejawat di dunia pers menilai tindakan BH sangat memalukan dan sangat mencoreng nama baik profesi kewartawanan. Tantangan duel yang dilontarkan dianggap sebagai sikap kuno, tidak dewasa, dan justru semakin memperkuat dugaan bahwa ada hal yang ditutup-tutupi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat mulai memantau kasus ini, baik terkait laporan kerugian materi dari tukang sayur maupun terkait ancaman dan tantangan yang dilontarkan BH di media sosial. Masyarakat berharap masalah ini segera diselesaikan secara hukum yang adil, agar hak korban terpenuhi dan tidak ada lagi oknum yang menyalahgunakan kedudukannya untuk bertindak sewenang-wenang.
(Red)

7 hours ago
4


















































