HarianNusa, Mataram – Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XII Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memasuki hari ketujuh sejak resmi dibuka pada 16 Juli 2026. Hingga memasuki pekan pertama pelaksanaan, pertandingan di berbagai cabang olahraga (cabor) berlangsung aman, lancar, dan sukses, termasuk proses penyerahan medali kepada para atlet yang meraih prestasi.
Meski sempat terjadi beberapa insiden di sejumlah cabang olahraga, secara umum pelaksanaan PORPROV tetap berjalan kondusif. Berbagai persoalan yang muncul juga disebut telah ditangani sesuai mekanisme yang berlaku.
Ketua Persatuan Cricket Indonesia (PCI) NTB, Baiq Isvie Rupaeda, mengapresiasi seluruh pihak yang telah menjaga keamanan dan kelancaran pelaksanaan PORPROV. Ia juga bersyukur cabang olahraga cricket mampu menuntaskan seluruh pertandingan dengan aman, tertib, dan sukses.
Terkait sejumlah insiden yang terjadi di beberapa cabor, Isvie mengingatkan agar semua pihak tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kesalahan sepenuhnya berada di tangan KONI NTB sebagai penyelenggara utama.
“Saya kira tidak bisa serta-merta KONI yang disalahkan dari setiap insiden itu. Pastinya harus dicari dulu sumber persoalannya di masing-masing cabor,” ujarnya, Kamis, (23/7).
Menurut Isvie, sejumlah persoalan yang muncul kemungkinan dipicu oleh kesalahpahaman terhadap aturan pertandingan, mekanisme perlombaan, maupun persoalan teknis di internal cabang olahraga yang belum tersosialisasi secara utuh kepada peserta.
Ia menambahkan, setiap cabang olahraga sebenarnya telah memiliki mekanisme pengaduan untuk menyelesaikan persoalan yang muncul sebelum diteruskan kepada panitia penyelenggara.
Yang paling penting, kata Isvie, seluruh pihak harus menghindari terjadinya keributan karena dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap citra penyelenggaraan PORPROV.
“Keributan ini harus kita hindari, apalagi daerah kita akan menjadi tuan rumah PON,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum KONI NTB, H. Mori Hanafi, menilai pelaksanaan PORPROV NTB XII secara keseluruhan telah berjalan sesuai harapan. Ia mengakui memang terdapat beberapa insiden selama tujuh hari pelaksanaan, namun seluruhnya telah diselesaikan dengan baik.
Ia optimistis hingga penutupan resmi PORPROV pada 25 Juli 2026 nanti tidak akan ada persoalan yang tersisa.
“Kita akui memang ada insiden yang terjadi di beberapa cabor. Tapi dari apa yang terjadi, kesalahan itu tidak sepenuhnya ada di KONI (NTB),” kata Mori.
Mori menjelaskan bahwa sebagai penyelenggara utama, KONI NTB tentu bertanggung jawab atas sukses atau tidaknya penyelenggaraan PORPROV. Namun, menurutnya, tidak semua persoalan teknis di arena pertandingan menjadi tanggung jawab langsung KONI.
Ia mencontohkan, apabila terjadi persoalan terkait akomodasi atau transportasi kontingen, maka KONI patut dimintai pertanggungjawaban.
Sebaliknya, jika insiden berkaitan dengan pelaksanaan pertandingan, kewenangan penyelesaian berada pada pengurus provinsi cabang olahraga (Pengprov cabor) sebagai pelaksana teknis.
Menurut Mori, Pengprov cabor memiliki tanggung jawab mengendalikan jalannya pertandingan, memastikan penerapan aturan berlangsung adil dan transparan, serta menjadi pihak pertama yang menyelesaikan setiap sengketa teknis di lapangan.
“Tidak semua hal teknis harus KONI yang disalahkan. Seperti misalnya ada insiden teknis di Lombok Tengah, kenapa KONI yang kemudian disalahkan. Ada protes di cabor ini, KONI lagi yang disalahkan,” ujarnya.
Mori berharap seluruh pihak dapat melihat setiap persoalan secara objektif sesuai kewenangan masing-masing, sehingga pelaksanaan PORPROV NTB XII dapat berakhir dengan sukses sekaligus menjadi bekal penting bagi NTB dalam menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. (*)
Ket. Foto:
Ketua PCI NTB, Baiq Isvie Rupaeda, ketika menghadiri pengalungan medali kepada para juara PORPROV NTB XII cabang olahraga Cricket, Kamis (23/7/2026). (Ist)


















































