Puasa Tapi Sia-Sia

5 days ago 5

*Oleh : Idat Mustari***

Satunews.id — Pada anak kecil yang tidak batal selama puasanya, kita memujinya,”Ih kamu anak hebat,” bahkan kita pun memberinya hadiah. Kita bangga pada mereka yang mampu menahan rasa lapar dan haus. Namun tidak pada puasa orang dewasa hingga tua, seperti kita. Ukuran sukses atau tidaknya bukan dari sekedar mampu menahan makan dan minum atau yang paling lama puasanya. Ukuran pahala puasa bukanlah lapar dan dahaga. Seolah-olah semakin lapar, pahalanya semakin besar. Semakin dahaga, pahalanya mungkin banyak. Tidak demikian.

Bahkan Rasulullah Muhammad saw mengatakan, kalau kita sedang puasa, tetapi kita lupa bahwa kita sedang puasa, lalu makan sampai kenyang dan minum sampai puas, maka puasa kita tidak batal. Malah Nabi menganjurkan supaya kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi makan dan memberi minum
kepada kita. Ini menunjukkan bahwa pahala puasa tidak bergantung kepada
kadar kelaparan dan kehausan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sukses tidaknya seseorang yang berpuasa adalah ketika mampu meraih sertifikat takwa. Menjadi orang bertaqwa adalah tujuan utama dari puasa, seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 183,”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa,” (Q 2:183).

Kenapa puasa bisa menghantarkan seseorang jadi bertakwa ? Karena puasa ibadah yang sangat personal, yang tahu puasa atau tidak hanya dirinya dengan Allah. Sehingga puasa melatih, mendidik seseorang merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah hidupnya. Beda dengan shalat,zakat terlebih haji mudah diketahui seseorang mengerjakannya atau tidak. Orang yang sedang puasa bisa saja meminum seteguk air tanpa orang lain tahu, namun itu tidak dilakukannya, karena sadar bahwa Allah sangat dekat mengawasi. Sadar bahwa Allah selalu bersama dengan dirinya.” Wahuwa ma’akum ainama kuntum”  artinya “Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada.

Tanda orang yang bertakwa itu bukan fisik. Bukan karena wajahnya, rupanya, kulitnya, melainkan sikap batinnya yang terlihat dari prilakunya, sikapnya.

Wujud dari takwa adalah prilaku yang baik atau akhlak karimah. Baik pada dirinya, dan orang lain. Dengan kata lain, tak mungkin seseorang disebut sebagai orang bertakwa jika jahat pada orang lain. Tak mungkin disebut orang bertakwa jika suka memfitnah, dan mengadu domba.

Bagi orang yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan tetapi juga memfitnah orang lain, membuat cerita bohong untuk menjelekkan orang lain ,mengadu domba, Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkann perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan)
perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa
orang itu meninggalkan makan dan minum,’” (HR Bukhari).

Dengan kata lain, Allah tak peduli dengan puasanya. Allah tak peduli dengan sakitnya menahan rasa lapar dan haus. Itulah orang yang puasa tapi sia-sia.

_Penulis Buku Bekerja Karena Allah dan Komisaris BUMD di kab Bandung_

Read Entire Article
Satu Berita| Harian Nusa | | |