HarianNusa, Mataram – Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Nusa Tenggara Barat (NTB) akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG menyusul kasus dugaan keracunan ratusan siswa di Lombok Tengah.
Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, mengatakan evaluasi akan mencakup seluruh tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan hingga pendistribusian makanan.
“Ini sebagai momentum untuk membenahi, berbenah. Evaluasi menyeluruh terhadap bagaimana memilah dan memilih makanan, lalu memprosesnya,” kata Fathul Gani yang juga Asisten III Setda Provinsi NTB, Jumat, (11/9) di Mataram.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah ketepatan waktu distribusi. Menurutnya, setiap ompreng makanan sebenarnya telah diarahkan untuk diberi label waktu, namun ketentuan tersebut belum dijalankan sebagaimana mestinya.
“Yang terpenting lagi distribusi, waktu mendistribusi. Jadi sudah diarahkan bahwa di tiap-tiap ompreng itu kan ada labeling waktu, dan itu tidak dilaksanakan,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi catatan serius bagi kepala dapur dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional SPPG.
Fathul menyebut, jumlah penerima manfaat yang terdampak dalam kasus tersebut mencapai 351 orang. Sebagian masih menjalani observasi dan pemantauan medis.
“Perkembangan terakhir 351 orang. hampir ada beberapa yang masih butuh observasi lebih lanjut. Tiga jam kita tunggu, mudah-mudahan bisa membaik semuanya,” katanya.
Satgas MBG NTB memastikan SPPG yang bermasalah akan mendapatkan tindakan. Namun, keputusan terkait durasi penghentian atau suspend berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Jelas kalau sudah kejadian seperti ini kan pasti suspend. Cuma suspend-nya apakah nanti jangka waktu menengah, panjang, itu tentu menjadi kewenangan BGN,” tegasnya.
Mengenai penyebab pasti kejadian, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil. Hasil pemeriksaan diharapkan diketahui dalam waktu dekat.
“Belum. Sampelnya sudah diambil dan dalam waktu dekat, secepatnya, insyaallah Senin kita lihat hasilnya,” jelas Fathul.
Ia juga mengingatkan seluruh pengelola SPPG agar lebih selektif menentukan menu, terutama menghindari makanan yang berpotensi cepat basi apabila tidak dikelola dan didistribusikan secara tepat.
“Hindari mengolah makanan yang berpotensi cepat basi, itu saja,” katanya.
Selain menu dan distribusi, setiap SPPG wajib memenuhi persyaratan operasional, termasuk memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta fasilitas pengolahan limbah atau IPAL yang memenuhi ketentuan.
Profesionalitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Pengelolaan SPPG harus melibatkan tenaga yang kompeten, mulai dari ahli gizi, kepala dapur hingga SPPI.
“Pengelolanya harus profesional, baik itu ahli gizinya, kemudian asefnya, kemudian kepala dapur, dalam hal ini SPPI-nya itu betul-betul harus bisa memanage,” ujarnya.
Fathul menegaskan, keamanan makanan tidak hanya ditentukan bahan baku dan proses memasak, tetapi juga sistem distribusi. Bahan makanan harus sehat dan segar, diolah dengan prosedur yang benar, kemudian disalurkan dalam waktu yang tepat.
“Yang terpenting adalah bagaimana memastikan bahwa bahan baku yang digunakan itu betul-betul sehat, segar, tentu dengan cara pengolahan yang baik dan pendistribusian yang tepat waktu,” katanya.
Ia menyebut standar waktu dari proses memasak hingga makanan didistribusikan maksimal sekitar tiga jam. Namun, penerapannya harus mempertimbangkan kondisi geografis dan karakteristik wilayah NTB.
“Kalau tidak salah, paling lama standarnya maksimum tiga jam proses itu. Tapi kan ini melihat, makanya saya lihat orbitasi, topografi wilayah kita harus diperhatikan juga,” jelasnya.
Menurutnya, waktu penerimaan makanan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik sekolah dan jadwal makan siswa. Sebagian sekolah menerima makanan pada pagi hari, sementara siswa SMP dan SMA umumnya mengonsumsi makanan pada siang hari dengan porsi lebih besar. (F*)
Ket. Foto:
Ketua Satgas MBG Provinsi NTB, Fathul Gani. (HN/fit)


















































