HarianNusa, Mataram – Pelaksanaan MotoGP Mandalika 2026 di Pertamina Mandalika International Street Circuit menjadi momentum penting bagi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk kembali memperkuat promosi pariwisata dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Namun, kondisi Desa Adat Sade yang saat ini masih dalam masa pemulihan pascakebakaran menjadi perhatian tersendiri. Selama ini, Sade merupakan salah satu ikon pariwisata NTB yang kerap menjadi bagian dari paket promosi wisata Mandalika, termasuk kepada wisatawan dan tamu yang datang menyaksikan MotoGP.
Ketua Komisi II DPRD NTB, H. Lalu Pelita Putra, mengatakan kondisi tersebut tentu menjadi keprihatinan. Meski demikian, menurutnya, pemerintah masih memiliki banyak pilihan destinasi wisata lain yang dapat ditawarkan selama gelaran MotoGP berlangsung.
“Tentu ini menjadi keprihatinan kita karena Sade merupakan salah satu ikon pariwisata NTB,” kata H. Lalu Pelita Putra, Jumat, (11/9) di Mataram.
Ia menilai pelaksanaan MotoGP tidak semata-mata harus berfokus pada balapan di sirkuit. Event internasional tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan beragam destinasi wisata NTB.
Menurutnya, terdapat banyak destinasi wisata yang dapat menjadi alternatif promosi, sehingga potensi pariwisata NTB tetap dapat ditampilkan meskipun Sade masih menjalani proses pemulihan.
Pelita juga menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam memanfaatkan momentum MotoGP. Sebab, penyelenggaraan event tersebut melibatkan banyak pemangku kepentingan, mulai dari Dorna, ITDC, MGPA, Kementerian Pariwisata, pemerintah provinsi hingga pemerintah kabupaten.
Kolaborasi tersebut, kata dia, perlu diarahkan agar dampak MotoGP tidak berhenti pada sektor olahraga dan pariwisata semata, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal, termasuk pelaku UMKM.
“Sehingga event MotoGP ini memberikan dampak positif untuk meningkatkan pariwisata kita, meningkatkan perekonomian masyarakat dan UMKM,” katanya.
Ia menambahkan, MotoGP juga harus menjadi pemicu lahirnya berbagai kegiatan pendukung yang dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas perputaran ekonomi di daerah.
“Banyak hal yang bisa ditawarkan, banyak tempat pariwisata yang bisa dikunjungi oleh para pembalap untuk mempromosikan pariwisata kita,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah diminta jeli melihat peluang dalam menghadirkan berbagai event dan aktivitas pendukung selama momentum MotoGP. Dengan demikian, kehadiran wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di kawasan sirkuit, tetapi juga menyebar ke berbagai destinasi wisata dan sentra ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, Pelita berharap proses pemulihan Desa Adat Sade dapat dilakukan sesegera mungkin dengan melibatkan seluruh pihak terkait. Ia mengapresiasi respons pemerintah daerah maupun pemerintah pusat melalui kementerian terkait terhadap kondisi Sade.
“Kita berharap pemulihan Sade bisa dilakukan secepatnya dengan melibatkan pihak terkait. Saya kira pemerintah daerah sudah cukup tanggap, begitu juga dengan pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan,” ujarnya.
Meski demikian, Pelita mengingatkan bahwa pemulihan Sade tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan kembali secara fisik. Nilai-nilai luhur dan identitas budaya yang selama ini dijaga masyarakat Sade harus menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
“Saya kira ada nilai-nilai luhur yang masih dipegang oleh masyarakat Sade dan itu harus menjadi perhatian pemerintah,” tegasnya. (F*)
Ket. Foto:
Ketua Komisi II DPRD NTB, H. Lalu Pelita Putra. (Ist)


















































