Museum Sade Segera Dibentuk, Angkat Jejak Sejarah dan Budaya Masyarakat Sasak

6 hours ago 7

HarianNusa, Mataram –  Rencana pembentukan Museum Sade di Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, terus dimatangkan. Museum tersebut nantinya menjadi ruang untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan sejarah, kehidupan, dan budaya masyarakat Sade kepada masyarakat luas.

Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam mengatakan, pihaknya telah menyusun proposal pembentukan Museum Sade dan melaporkannya kepada Ketua Satgas Rekonstruksi Desa Adat Sade yang juga Asisten II Setda NTB, Lalu Muhamad Faozal.

Menurut Ahmad Nuralam, penyusunan Museum Sade saat ini telah memasuki tahap akademik, termasuk proses identifikasi koleksi yang akan ditampilkan sesuai dengan konsep dan naskah akademik yang telah disusun.

“Tema utamanya yakni Jejak Kehidupan di Sade,” katanya, saat ditemui beberpa waktu lalu. 

Mengusung tem utama “Jejak Kehidupan di Sade”, yang  dibagi menjadi lima subtema. Masing-masing yakni Jejak Leluhur, Ruang dan Budaya Sade, Sade Mendunia, Ketika Api Menghanguskan Sade, serta Sade Bangkit dan Menyongsong Masa Kejayaan.

Kelima subtema itu diharapkan dapat menggambarkan perjalanan masyarakat Sade secara utuh, mulai dari sejarah leluhur, kehidupan dan kebudayaan, perkembangan Sade hingga dikenal luas, peristiwa kebakaran, sampai proses kebangkitan masyarakat setelah bencana tersebut.

Ahmad Nuralam menyebutkan, koleksi yang akan ditampilkan diperkirakan mencapai 51 benda atau materi koleksi. Selain koleksi fisik, Museum Sade juga akan dilengkapi diorama sederhana yang menggambarkan kondisi Sade setelah kebakaran serta materi audio visual untuk memperkuat penyampaian informasi kepada pengunjung.

Namun, penataan koleksi baru dapat dilakukan setelah bangunan museum selesai. Sebab, desain dan tata letak koleksi harus menyesuaikan dengan luas, tinggi, serta pembagian ruang bangunan.

“Kalau bangunan sudah selesai barulah kami akan mendisplay, karena final bangunan harus kita lihat berapa luas dan tinggi bangunan, pembagian dimensinya seperti apa. Itu yang menjadi entry point bagi kita,” jelasnya.

Bangunan Museum Sade saat ini diperkirakan memiliki luas sekitar 8 meter x 10 meter. Sementara kebutuhan anggaran yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) berada pada kisaran Rp200 juta hingga Rp250 juta.

Meski demikian, Ahmad Nularam menegaskan angka tersebut masih berupa usulan. Besaran anggaran yang nantinya disetujui masih menunggu keputusan pimpinan daerah dan Ketua Satgas Rekonstruksi Desa Adat Sade.

Menariknya, Museum Sade nantinya tidak akan menjadi bagian dari pengelolaan Museum Negeri NTB. Pengelolaannya direncanakan diserahkan langsung kepada masyarakat Sade melalui skema hibah.

“Pengelolaan Museum Sade ini nantinya akan diserahkan kepada masyarakat Sade. Jadi bukan sebagai bagian dari Museum NTB. Nanti bentuknya seperti hibah ke masyarakat Sade,” ujarnya.

Rencana tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Majelis Adat Sasak NTB, H. Lalu Sajim Sastrawan. Ia menilai keberadaan Museum Sade penting untuk memastikan berbagai peninggalan dan pengetahuan sejarah masyarakat Sasak di Sade tetap terdokumentasi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia berharap berbagai unsur yang memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan adat Sasak di Desa Sade dapat tercermin dalam museum tersebut.

“Sehingga generasi muda kita nantinya bisa mengenal warisan peninggalan budaya leluhur sasak,” ujarnya, saat Senin, (21/9) di Gerung, Lombok Barat. 

Kehadiran Musium Sade nantinya  diharapkan jejak kehidupan di sade hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pengenalan budaya Sasak bagi generasi muda maupun wisatawan yang berkunjung ke Desa Adat Sade. (F*)

Ket. Foto:

Kepala Musium Negeri NTB, Ahmad Nuralam dan Ketua Majelis Adat Sasak, H. Lalu Sajim Sastrawan. (Ist)

- Advertisement -

Read Entire Article
Satu Berita| Harian Nusa | | |