Kultum Ramadhan: Kesabaran adalah Jalan Menuju Kemenanga

14 hours ago 10

Kultum Ramadhan: Kesabaran adalah Jalan Menuju Kemenanga

Kabupaten Bekasi // Dalam menjalani kehidupan, kita sering sekali tersandung oleh pahitnya takdir. Kita dihadapkan dengan kesulitan, kegagalan, dan kehilangan yang membuat kita merasa lemah dan tak berdaya. Namun, putus asa dan menyerah bukanlah solusi. Sebaliknya, kita harus menghadapi kesulitan itu dengan kepala tegak dan hati yang kuat.

Dalam Islam, menghadapi kesulitan hidup diistilahkan dengan sabar. Sabar dalam menghadapi pahitnya takdir bukanlah tanda kelemahan, tapi sebaliknya, sabar dalam menghadapi pahitnya takdir merupakan tanda kekuatan sejati. Allah Ta’ala berfirman:

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah. Ayat 153).

Ayat ini menegaskan bahwa sabar merupakan sarana penolong bagi orang-orang beriman dalam menghadapi setiap cobaan yang sedang dihadapi. Yang artinya sabar memungkinkan kita untuk menerima apa yang telah terjadi, dan mempercayai bahwa Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Dengan sabar, kita dapat mengatasi kesulitan, belajar dari kesalahan, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak.

Penggalan ayat terakhir tersebut juga merupakan satu keistimewaan dari Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar. Bahwa Allah akan selalu membersamai orang-orang yang sabar dalam menjalani segala ketentuan yang Allah berikan kepada mereka.

Maka, sabar di sini menjadi salah satu jalan yang paling istimewa untuk mendapat kemenangan sejati, yaitu kebersamaan dengan Tuhan semesta alam yang mengatur seluruh jalan takdir yang kita lalui.

Maka, tidaklah mengherankan apabila Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A pernah mengatakan:

‎وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْأُمُورِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ فَإِذَا فَارَقَ الرَّأْسُ الْجَسَدَ فَسَدَ الْجَسَدُ، وَإِذَا فَارَقَ الصَّبْرُ الْأُمُورَ فَسَدَتِ الْأُمُورُ

Artinya, “Ketahuilah bahwa kesabaran atas berbagai urusan (kehidupan) seperti halnya kepala bagi tubuh. Jika kepala terpisah dari tubuh, maka tubuh akan rusak. Begitu pula, jika kesabaran terpisah dari urusan (kehidupan), maka urusan (kehidupan) akan menjadi rusak”. (Tanbih Al-Ghafilin halaman 90)

Maksudnya, kesabaran adalah kunci untuk menjaga kestabilan dan keselarasan mental dalam menjalani kehidupan. Tanpa kesabaran, mental dalam menjalani kehidupan akan menjadi tidak seimbang dan rusak, karena kehidupan ini tidak mungkin selalu sesuai dengan keinginan kita.

Maka, salah satu upaya yang paling efektif untuk membangun mental kita dan generasi selanjutnya adalah dengan mengkaji tentang ilmu akhlak, khususnya sabar, sebab dengan sabar inilah semua hal yang terjadi dalam kehidupan akan dilalui dengan ketenangan dan keyakinan akan berlalunya badai kehidupan.

Tidak hanya sebagai kunci menuju kemenangan sejati, orang-orang yang sabar juga dijanjikan pahala yang agung dari Allah Ta’ala. Hal ini tertuang dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan dipenuhi pahala mereka tanpa hitungan.”(QS. Az-Zumar. Ayat 10)

Bayangkan saja, dalam Al-Qur’an pahala orang-orang yang bersabar diungkapkan dengan “Bighoiri Hisab” yang dalam terjemahan bahasa Indonesia dapat diartikan “tanpa hitungan”. Hal ini sejatinya merupakan isyarat bahwa sabar adalah satu sifat yang tidak bisa diukur keutamaannya.

Tidak hanya sebagai kunci kemenangan sejati atau pahala yang amat agung yang dijanjikan kepada orang-orang yang bersabar, sikap sabar juga menjadi cerminan seorang hamba yang mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda:

‎عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Artinya, “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridha (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (HR Ibnu Majah)

Terlebih saat ini kita berada di bulan suci Ramadhan, bulan yang begitu mulia. Mari kita manfaatkan bulan yang mulia ini, dengan menumbuhkan akhlak yang mulia juga yakni sabar.

Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi.

(Hermanto) **

Read Entire Article
Satu Berita| Harian Nusa | | |