*Oleh : Idat Mustari***
Satunews.id — Seperti dalam tulisan sebelumnya”Menjeda Dunia,Merenungi Diri.” adalah upaya mengingatkan diri pada satu penyakit zaman modern yang paling jarang disadari manusia: kelelahan jiwa di tengah kesibukan dunia. Manusia hari ini tidak kekurangan aktivitas, tetapi kekurangan kesadaran diri.
Nabi Muhammad Saw, sebelum menerima wahyu bukan mencari keramaian, bukan mencari popularitas, tetapi justru menjauh dari hiruk-pikuk masyarakat untuk memahami dirinya dan realitas kehidupan. Gua Hira bukan sekadar tempat fisik, melainkan simbol: bahwa kebenaran sering ditemukan bukan saat kita banyak berbicara, tetapi saat kita berani diam.
Di era sekarang, manusia hampir tidak pernah sendiri. Tangannya memegang ponsel, matanya menatap layar, pikirannya dipenuhi notifikasi, tetapi hatinya kosong. Kita sibuk mengetahui kehidupan orang lain, namun tidak mengenal keadaan diri sendiri.
Di sinilah makna tafakur menjadi sangat dalam. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi ibadah kesadaran. Banyak orang rajin beribadah, namun mudah marah, mudah menyakiti, mudah sombong. Itu tanda ibadahnya bergerak di badan, belum sampai ke hati.
Tafakur adalah jembatan antara ibadah dan akhlak. Ketika seseorang benar-benar merenung, ia akan melihat: betapa banyak nikmat yang selama ini tidak ia syukuri, betapa banyak kesalahan yang ia anggap benar,
betapa banyak ambisi dunia yang ternyata tidak membuatnya tenang.
Tentu saja ketika Rasulullah Saw menyatakan bahwa merenung sesaat lebih baik daripada ibadah setahun. Maksudnya bukan merendahkan ibadah, tetapi menegaskan bahwa ibadah tanpa kesadaran bisa menjadi rutinitas, sedangkan kesadaran melahirkan perubahan.
Ramadhan sebenarnya bukan sekadar bulan menahan lapar, tetapi bulan mengembalikan manusia kepada dirinya. Lapar hanya metode; tujuan sebenarnya adalah melembutkan hati. Saat dunia dijeda, barulah suara nurani terdengar.
Kita sering meminta kepada Allah agar hidup berubah, namun jarang memberi waktu kepada diri sendiri untuk bertanya: apa yang sebenarnya harus saya ubah dari diri ini.
Sering kita lupa, bahwa dalam hidup ini yang paling kita butuhkan bukan tambahan kesibukan, melainkan jeda. Sebab dalam jeda, itulah manusia menemukan arah. Karena kadang manusia tidak tersesat karena tidak punya jalan,tetapi karena terlalu cepat berjalan tanpa pernah berhenti melihat tujuan.
Semoga Ramadhan bukan hanya mengurangi makan kita, tetapi menambah kesadaran,terutama kesadaran bertaubat. ” _Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī.”_
Salam Takjim
**Penulis Buku Bekerja Karena Allah,Komisaris di BUMD Kab Bandung

7 hours ago
8


















































