Oleh : Idat Mustari***
Satunews.di — Menurut Priatno penulis buku “Spiritual Thinking” yang bergelar MBA dari University of Washington, disebutkan salah satu kriteria etika bisnis adalah ajaran tentang bagaimana kita sendiri bersedia diperlakukan baik oleh orang lain. Seraya mengutip dosennya, ia mengatakan “jika kita tidak suka diperlakukan tanpa hormat, maka jangan pernah memperlakukan orang lain dengan tidak hormat. Jika kita senang tidak dizalimi orang, maka jangan pernah berbuat zalim kepada orang lain. Jika kita senang diperlakukan secara baik, maka kita harus memperlakukan baik orang lain juga.
Di buku “The Wisdom of Lao Zi”, Kong Zi atau Kong Fu Zi berkata, “ji sou bu yu, hu shi yi ren”. Artinya, apa yang tidak kita inginkan orang lain memperlakukan kita, janganlah kita lakukan kepada yang lain. Kata-kata bijak itu disampaikan Kong Fu Zi, pada 500 tahun sebelum Kristus lahir ke muka bumi.
Ajaran tentang etika pergaulan, etika bisnis, dan etika profesi jauh-jauh hari sudah diajarkan oleh nenek moyang kita di Benua Asia ini. Ada petuah sunda “kudu hormat ka saluhureun, kudu nyaah kasahandapeun, kudu alus ka sasama”. Kita harus hormat kepada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda, baik kepada sesama.
Petuah ini erat kaitannya dengan etika pergaulan sehari-hari. Nenek moyang kita, sangat arif dan bijaksana, mereka mewariskan sesuatu yang paling berharga untuk generasi selanjutnya, bahkan saking ikhlasnya mereka merangkai kata-kata — baik dalam bentuk lisan maupun tulisan — semuanya hidup abadi di dalam jiwa setiap generasi. Dalam bahasa yang agak nyastra, pepatah mereka “Tak lekang dimakan zaman”.
Namun hari ini boleh jadi kita sudah tidak lagi memperdulikan itu semua. Konon kabarnya, ajaran etika hanya ada di sekolah, masjid, gereja, sinagog, dan vihara. Bukan berada di realitas kehidupan duniawi yang kotor dan berjubel dosa. Karena itu, orang pun menghalalkan segala cara demi meraih apa yang dicita-citakan asal dirinya senang dan sukses, meskipun harus menginjak kepala orang.
Relasi harmonis dibangun bukan karena ketulusan melainkan karena ada motif keuntungan pribadi yang akan diperoleh, Jika etika hanya sebatas ajaran dan tertulis di buku, kitab, daun lontar, dan bebatuan tetapi tidak pernah hidup di jiwa. Maka betul kiranya terbukti bahwa kita ini adalah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesama manusia).
Sungguh hanya di alam kehidupan mikro Serigala lah norma, etika, dan moral tidak akan pernah ada….Bahkan lebih jahatnya Serigala sering memakai bulu domba untuk memakan domba-domba yang tengah asyik makan rumput di padang gembalaan. Oleh karena itu perlakukan orang dengan baik, maka kita juga akan mendapatkan perlakuan yang baik juga, dan ini hanya ada di ruang ketulusan, bukan kepura-puraan.
_Wallahu’alam_
**Penulis Pemerhati Sosial dan Keagamaan, komisaris BUMD di Kab Bandung

4 days ago
20


















































